SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA AYU Semoga blog ini bermanfaat SALAM DAMAI SEMUA :*
RSS

SPK pengertian



Nama: Rahayu safitri
kls: 3fSistem informasi
npm: 12.1.03.03.0093


Analisa dan Perancangan Sistem Pendukung Keputusan

 Pengertian Sistem Pendukung Keputusan
Secara umum definisi DSS menunjukkan DSS sebagai sebuah system yang
dimaksudkan untuk mendukung para pengambil keputusan manajerial dalam situasi
keputusan semiterstruktur. DSS dimaksudkan untuk menjadi alat Bantu bagi para
pengambil keputusan untuk memperluas kapabilitas mereka, namun tidak untuk
menggantikan penilaian mereka. DSS ditujukan untuk keputusan-keputusan yang
memerlukan penilaian atau pada keputusan-keputusan yang sama sekali tidak dapat
didukung oleh algoritma.
DSS biasanya dibangun untuk mendukung solusi terhadap suatu masalah atau
untuk mengevaluasi suatu peluang. DSS yang seperti ini disebut aplikasi DSS. Aplikasi
DSS digunakan untuk pengambilan keputusan. Aplikasi DSS, menggunakan CBIS
(computer Based Information Systems) yang fleksibel, interaktif, dan dapat diadaptasi,
yang dikembangkan untuk mendukung solusi untuk masalah manajemen spesifik yang
tidak terstruktur. Aplikasi DSS menggunakan data, memberikan antarmuka pengguna
yang mudah, dan dapat menggabungkan pemikiran pengambilan keputusan.

Tujuan Sistem Pendukung Keputusan (DSS)
Ada berbagai alas an mengapa system pendukung keputusan diperlukan, (Efrain
Turban, Jay E. Aronson dan Ting Peng Liang, Decision Support System and Intelligent
Systems, Edisi 7, Jilid 1, 2005 : 12), antara lain:
1. Kecepatan komputasi
2. Peningkatan produktifitas
3. Dukungan kualitas
4. Berdaya saing: manajemen dan pemberdayaan sumber daya perusahaan
5. Mengatasi keterbatasan kognitif dalam pemrosesan dan penyimpanan

Jenis Sistem Pendukung Keputusan (DSS)
DSS dapat dipilah sejalan dengan tingkat dukungannya terhadap pemecahan
masalah. Ada 6 jenis DSS (http://www.fortunecity.com), yaitu:
1. Retrieve Information Elements
2. AnalyzeEntire File
3. Prepare Reports From Multiple Files
4. Estimate Decision Consequences
5. Propose Decision
6. Make Decision

Model Sistem Pendukung Keputusan (DSS)
Penjabaran berikut akan memperlihatkan model tipikal DSS yang umum
dikembangkan. Dalam model ini terlihat bahwa data dan informasi mengenai lingkup
perusahaan dimasukkan ke dalam basis data (database). Selanjutnya basis data tersebut
akan dimanfaatkan oleh tiga sub sistem perangkat lunak, yaitu
(http://wwwfortunecity.com/):
a. Report-writing Software
b. Mathematical Models
c. Groupware

Karakteristik Sistem Pendukung Keputusan (DSS)
Karena tidak ada konsensus mengenai apa sebenarnya DSS, maka jelas tidak ada
kesepakatan mengenai karakteristik standart DSS. Berikut ini adalah karakteristik yang
diharapkan ada di DSS (Efraim Turban, jay E. Aronson dan Ting Peng Liang, Decision
Support and intelegent systems, edisi 7, jilid 1, 2005 : 140-143);
1. Dukungan untuk pengambil keputusan, terutama pada situasi semiterstruktur dan
tak terstruktur, dengan menyertakan penilaian manusia dan informasi
terkomputerisasi.
2. Dukungan untuk semu level manajerial, dan eksekutif puncak sampai manajer lini.
3. Dukungan untuk individu dan kelompok
4. Dukungan untuk keputusan independen dan atau sekuensial
5. Dukungan disemua fase proses pengambilan keputusan: inteligensi, desain, pilihan
dan implementasi.
6. Dukungan diberbagai proses dan gaya pengambilan keputusan.
7. Adaptivitas sepanjang waktu. Pengambilan keputusan seharusnya reaktif, dapat
menghadapi perubahan kondisi secara cepat, dan dapat mengadaptasikan DSS
untuk itu pengguna dapat menambahkan, menghapus, menggabungkan, mengubah,
atau menyusun kembali elemen-elemen dasar.
8. Pengguna merasa seperti di rumah.
9. Peningkatan terhadap keefektifan pengambilan keputusan (akurasi, timelines,
kualitas) ketimbang pada efisiensinya (biaya pengambilan keputusan
10. Kontrol penuh oleh pengambil keputusan terhadap semua langkah proses
pengambilan keputusan dalam memecahkan suatu masalah.
11. Pengguna akhir dapat mengembangkan dan memodifikasi sendiri sistem sederhana.
Sistem yang lebih besar dapat dibangun dengan bantuan ahli sistem informasi
12. Biasanya model-model untuk menganalisa situasi pengambilan keputusan.
Kapabilitas pemodelan memungkinkan eksperimen dengan berbagai strategi yang
berbeda di bawah konfigurasi yang berbeda.
Karakteristik dari DSS tersebut membolehkan para pengambil keputusan untuk
membuat keputusan yang lebih baik dan lebih konsisten pada satu cara yang dibatasi
waktu.

Komponen-Komponen Sistem Pendukung Keputusan (DSS)
Aplikasi DSS dapat terdiri dari beberapa subistem, seperti:
1. Subsistem manajemen data
2. Subsistem manajemen model
3. Subsistem antarmuka pengguna
4. Subsistem manajemen berbasis-pengetahuan
Berdasarkan definisi, DSS harus mencakup tiga komponen utama dari DBMS,
MBMS, dan antarmuka pengguna. Subsistem manajemen berbasis pengetahuan adalah
opsional, namun dapat memberikan banyak manfaat karene memberikan inteligensi bagi
tiga komponen utama tersebut. Seperti pada semusistem informasi manajemen,
pengguna dapat dianggap sebagai komponen DSS.

Kotak Alat Bantu (ToolBox) Sistem Pendukung Keputusan (DSS)
Pada dasarnya DSS terbentuk dari sekumpulan alat bantu (tools) pendukung
keputusan yang dapat diadaptasikan ke segala situasi. Kombinasi dari alat bantu ini
memungkinkan para manajer dapat memecahkan permasalahan yang spesifik, seperti
pada Gambar 2.3 (sumber:/www.fortunecity.com/).
Alat-alat bantu tersebut meliputi:
a. Application development
b. Data management
c. Modeling
d. Statistical Analysis
e. Planning
f. Inquiry
g. Graphics
h. Consolidations
i. Aplication-spesific DSS capabilities

Fase-Fase Proses Pengambilan Keputusan
Proses pemgambilan keputusan dimulai dari fase inteligensi. Realitas diuji, dan
masalah diidentifikasi dan ditentukan. Kepemilikan maslah juga ditetapkan. Pada fase
desain, akan dikostruksi sebuah model yang mereprensentasikan sistem. Hal ini
dilakukan dengan membuat asumsi-asumsi yang meyederhanakan relitas dan menulis
hubungan diantara semua variabel. Model ini kemudian divalidasi, dan ditentukan kriteria
dengan menggunakan prinsip memilih untuk mengevaluasi alternatif tindakan yang telah
diidentifikasi. Proses pengembangan model sering mengindikasikan solusi-solusi
alternatif, dan demiklian sebaliknya. Fase pilihan meliputi pilihan terhadap solusi yang
diusulkan untuk model (tidak memerlukan masalah yang disajikan). Solusi ini diuji guna
menentukan viabilitasnya: fase implementasi keputusan (tidak memerluikan sebuah
sistem).

DSS Institusional.
a. Pendahuluan
Sistem Penunjang Keputusan yang dibuat untuk pengalokasian anggaran dan
sumber daya, penjadwalan pemberangkatan (dispatching) kereta api, penentuan harga,
dan aplikasi akuisisi. Dua dari DSS yang dipelajari atau diteliti tsb digunakan secara
berkelanjutan, sedangkan dua lainnya digunakan untuk pembuatan keputusan secara
sesaat (satu kali). Donovan dan Madnick menamakan cara untuk pembuatan keputusan
secara berkelanjutan tsb, yaitu DSS institusional.
b. Kerangka Konseptual
Gorry dan Scott Morton mengkombinasikan kategori aktivitas manajerial dari
Anthony (yakni, kontrol operasional, kontrol manajemen dan perencanaan strategis)
dengan konsep pembuatan keputusan terstruktur dan tak terstruktur dari Simon untuk
membuat kerangka guna peninjauan sistem informasi1. Keen dan Scott Morton
mengidentifikasi keakuratan, umur informasi, tingkat kerincian, cakrawala waktu,
frekuensi penggunaan, sumber, lingkup informasi dan jenis informasi sebagai aspek
persyaratan informasi yang bervariasi menurut aktivitas manajerial2. Menurut Donovan
dan Madnick DSS institusional yang berkenaan dengan keputusan yang sifatnya
berulang-ulang. DSS institusional paling cocok untuk aplikasi kontrol operasional.

Client Side Scripting
Client side scripting merupakan bahasa pemrograman internet yang akan
dieksekusi oleh browser dalam format*.html. Biasanya client side yang digunakan untuk
hal-hal yang membutuhkan interaksi user tetapi data yang ditampilkan tetap sama
dengan menggunakan server side scripting.
Aplikasi web berjalan pada protokol HTTP, dan semua protokol di internet selalu
melibatkan antara server dan client. Ketika seseorang mengetikkan suatu alamat di
browser, maka browser akan mengirimkan perintah tersebut ke web server. Jika yang
diminta oleh client adalah file yang mengandung file client side maka oleh server file
tersebut akan langsung dikirimkan ke browser.
Client side scripting dikerjakan secara urut dari bagian paling atas script sampai
bagian paling bawah. Tanpa ada lompatan, perulangan dan sebagainya. Client side
scripting dapat dilihat melalui browser langsung dengan memilih menu view source,
sehingga keamanan script kurang terjaga.
1Gory, GA., and M.S. Scott Morton “ A Framework for Management Information Systems,” Sloan
Management Review, 12, no. 1 (Fall 1971),55-70.
2Keen, Peter G.W. “Interactive Computer Systems for Managers: A Modest Proposal,”Sloan
Management Review, 18, no.1 (Fall 1976), 1-17.

Server Side Scripting
Server side scripting merupakan dokumen-dokumen yang digunakan dalam
membangun suatu aplikasi internet yang dijalankan pada sisi server dan dikirimkan ke
browser dalam bentuk HTML. Jika yang diinginkan oleh seorang user adalah file yang
mengandung perintah server side maka server web akan menjalankan dahulu program
tersebut lalu mengirimkannya kembali ke browser dalam bentuk HTML sehingga dapat
diterjemahkan oleh browser.


ANALISIS MASALAH
Identifikasi Masalah
Mengenal masalah merupakan langkah pertama yang dilakukan dalam tahap
analisis sistem. Masalah (problem) dapat didefinisikan sebagai suatu pertanyaan yang
harus dipecahkan. Masalah inilah yang menyebabkan sasaran dari system tidak dapat
dicapai. Oleh karena itulah pada tahap analisis system langkah pertama yang harus
dilakukan oleh analisis adalah mengidentifikan terlebih dahulu masalah-masalah yang
terjadi.
Mengidentifikasi masalah dimulai dengan mengkaji subyek permasalahan yang
ada. Adapun masalah yang ada di Imworks adalah belum adanya media seperti website
yang dapat memberikan fasilitas bagi mitra perusahaan, atau pihak manajemen untuk
bertukar informasi secara online.
Dari permasalahan yang terjadi penulis mengidentifikasikan penyebab terjadi
masalah yaitu belum adanya suatu media website yang dapat memberikan informasi
tentang Imworks dan produknya yang bersifat global yang bisa diakses oleh
penggunanya dari seluruh wilayah baik dalam maupun luar, yaitu situs web
Analisis Pieces
Tahap analisis sistem dengan PIECES Analysis, data yang sudah terkumpul
kemudian di analisis untuk menentukan berbagai kebutuhan yang diperlukan dalam
melakukan pengembangan sistem seperti performance, informasi, economic, control,
efficiency, service, analisis kebutuhan sistem, analisis kebutuhan keluaran sistem dan
analisis kebutuhan masukan yang diperlukan pada sistem yang akan dibangun.
Analisis Kinerja (Performance)
Kinerja merupakan bagian pendukung dalam kelancaran proses kerja dalam
suatu perusahaan, kinerja yang dimaksud adalah kinerja sistem. Kinerja dapat diukur dari
thoughput dan response time. Throughput adalah jumlah dari pekerjaan yang dapat
dilakukan suatu sistem tertentu. Response time adalah rata – rata waktu yang tertunda
diantara dua pekerjaan ditambah dengan waktu response untuk menangani pekerjaan
tersebut.


Table Analisis Performance
Faktor
Hasil Analisis
Throughput
− informasi ImWorks dan
pencatatan record
penjualan mitra dilakukan
dalam satu aktifitas.
Response time
− Waktu yang dibutuhkan
relatif lama.
Analisis kinerja sistem informasi berbasis web dilakukan untuk mengetahui
bagaimanakah sistem tersebut bekerja, sehingga dapat disusun rancangan perubahan
sistem lama menjadi sistem informasi berbais web.
Analisis Informasi (Information)
Informasi pada website hendaknya mudah untuk dibaca dan dipelajari. Pada
sistem yang lama hal tersebut belum terwujud dengan baik karena jika ingin mengakses
informasi yang ada haruslah ke sekolah, itu pun jika hari libur, atau jam-jam tertentu
informasi sudah tidak bisa di akses, sehingga menyulitkan masyarakat untuk
mendapatkan informasi yang mereka inginkan.
Terdapatnya sebuah sitem informasi dengan menggunakan media web,
memungkinkan siapa saja, di mana saja dapat mengakses informasi, dan hubungan
pertukaran informasi antar user maupun dengan admin dapat berlangsung secara real
time.
Analisis Ekonomi (Economic)
Analisis dari segi ekonomi, penggunaan sistem lama saja kurang efisien
dibandingkan dengan adanya penambahan sistem informasi berbasis web. Dengan
kesamaan biaya yaitu biaya domain dan hosting Rp.500.000,- per tahun, penggunaan
sistem lama saja tidak efektif jika dibandingkan dengan sistem informasi berbasis web
yang lebih mendukung fungsi-fungsi informasi.
Analisis Kontrol (Control)
Peningkatan terhadap pengendalian untuk mendeteksi dan memperbaiki
kesalahan serta kekurangan yang akan terjadi. Pengendalian atau control dalam sebuah
sistem sangat diperlukan keberadaannya untuk menghindari dan mendeteksi secara dini
terhadap penyalah gunaan atau kesalahan sistem serta untuk menjamin keamanan data
atau informasi yang ada di SMA Negeri 4 Purworejo. Dengan adanya control, maka tugas
atau kinerja yang mengalami gangguan bisa di perbaiki secara cepat.
Analisis Efisiensi (Efficiency)
Analisis efisiensi sistem informasi berbasis web dilakukan untuk mengetahui
seberapa efisien sistem tersebut bekerja, sehingga dapat disusun rancangan perubahan
sistem lama menjadi sistem informasi berbasis web. Berikut adalah hasil analisis efifiensi
sistem informasi berbasis web.
Tabel 3.2 Hasil Analisis Efisiensi Sistem Informasi Berbasis Web
No.
Faktor

Hasil analisa sistem informasi berbasis web

1
Biaya

Sistem membutuhkan biaya domain dan hosting Rp.500.000,- per tahun.

2
Waktu

Sistem dapat mempercepat penyebaran informasi dalam satu waktu, informasi dapat diakses di berbagai tempat selamatersedia koneksi internet.

3
Manusia(SDM)

Sistem dapat memperkecil tenaga untuk input data karena dalam satu waktu, data dapat diakses di berbagai tempat.

Analisis Pelayanan (Service)
Peningkatan terhadap pelayanan yang diberikan oleh sistem. Dalam suatu
perusahaan peningkatan pelayanan terhadap masyarakat merupakan tujuan utama.
Pada ImWorks pelayanannya kepada masyarakat sangat diutamakan.
Table 3.2 Analisis Service
Faktor
Hasil Analisis
Sistem Informasi Web
− Ragam
Informasi
− Pelayanan yang diberikan
hanya sebatas pada saat jam
kerja dan lewat fasilitas telepon
atau dikantor.
− Pelayanan atau
pengaksesan informasi
dapat diakses di mana saja,
kapan saja selama terdapat
koneksi internet.
− Jumlah
Procedure
dalam
mendapatkan
informasi
− Untuk mendapatkan sebuah
informasi mitra harus ikut aktif
(baik via telp atau datang
secara langsung)


Referensi:
http://repository.amikom.ac.id/files/Publikasi_09.22_.1031_.pdf



Pengertian Sistem Pendukung Keputusan

Ilustrasi Pendukung Keputusan
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) atau Decision Support System (DSS) adalah sebuah sistem yang mampu memberikan kemampuan pemecahan masalah maupun kemampuan pengkomunikasian untuk masalah dengan kondisi semi terstruktur dan tak terstruktur. Sistem ini digunakan untuk membantu pengambilan keputusan dalam situasi semi terstruktur dan situasi yang tidak terstruktur, dimana tak seorangpun tahu secara pasti bagaimana keputusan seharusnya dibuat (Turban, 2001).

SPK bertujuan untuk menyediakan informasi, membimbing, memberikan prediksi serta mengarahkan kepada pengguna informasi agar dapat melakukan pengambilan keputusan dengan lebih baik.

SPK merupakan implementasi teori-teori pengambilan keputusan yang telah diperkenalkan oleh ilmu-ilmu seperti operation research dan menegement science, hanya bedanya adalah bahwa jika dahulu untuk mencari penyelesaian masalah yang dihadapi harus dilakukan perhitungan iterasi secara manual (biasanya untuk mencari nilai minimum, maksimum, atau optimum), saat ini computer PC telah menawarkan kemampuannya untuk menyelesaikan persoalan yang sama dalam waktu relatif singkat.

Sprague dan Watson mendefinisikan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) sebagai sistem yang memiliki lima karakteristik utama yaitu (Sprague et.al, 1993):
  1. Sistem yang berbasis komputer. 
  2. Dipergunakan untuk membantu para pengambil keputusan 
  3. Untuk memecahkan masalah-masalah rumit yang mustahil dilakukan dengan kalkulasi manual 
  4. Melalui cara simulasi yang interaktif 
  5. Dimana data dan model analisis sebaai komponen utama.
Komponen Sistem Pendukung Keputusan
Secara umum Sistem Pendukung Keputusan dibangun oleh tiga komponen besar yaitu database Management, Model Base dan Software System/User Interface. Komponen SPK tersebut dapat digambarkan seperti gambar di bawah ini.
Komponen Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
a. Database Management
Merupakan subsistem data yang terorganisasi dalam suatu basis data. Data yang merupakan suatu sistem pendukung keputusan dapat berasal dari luar maupun dalam lingkungan. Untuk keperluan SPK, diperlukan data yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan melalui simulasi.
b. Model Base
Merupakan suatu model yang merepresentasikan permasalahan kedalam format kuantitatif (model matematika sebagai contohnya) sebagai dasar simulasi atau pengambilan keputusan, termasuk didalamnya tujuan dari permaslahan (objektif), komponen-komponen terkait, batasan-batasan yang ada (constraints), dan hal-hal terkait lainnya. Model Base memungkinkan pengambil keputusan menganalisa secara utuh dengan mengembangkan dan membandingkan solusi alternatif.
c. User Interfase / Pengelolaan Dialog
Terkadang disebut sebagai subsistem dialog, merupakan penggabungan antara dua komponen sebelumnya yaitu Database Management dan Model Base yang disatukan dalam komponen ketiga (user interface), setelah sebelumnya dipresentasikan dalam bentuk model yang dimengerti computer. User Interface menampilkan keluaran sistem bagi pemakai dan menerima masukan dari pemakai kedalam Sistem Pendukung Keputusan.
Manfaat Sistem Pendukung Keputusan
SPK dapat memberikan berbagai manfaat dan keuntungan. Manfaat yang dapat diambil dari SPK adalah :
  1. SPK memperluas kemampuan pengambil keputusan dalam memproses data / informasi bagi pemakainya. 
  2. SPK membantu pengambil keputusan untuk memecahkan masalah terutama barbagai masalah yang sangat kompleks dan tidak terstruktur. 
  3. SPK dapat menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya dapat diandalkan. 
  4. Walaupun suatu SPK mungkin saja tidak mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh pengambil keputusan, namun dia dapat menjadi stimulan bagi pengambil keputusan dalam memahami persoalannya,karena mampu menyajikan berbagai alternatif pemecahan.


Pemodelan Dalam Sistem Pendukung Keputusan (SPK)


Definisi Model
Menurut Raymond McLeod, Jr (McLeod, 1998) adalah penyederhanaan (abstraction)dari sesuatu. Sedangkan menurut Efraim
Turban (Turban, 1998) adalah sebuah representasi atau abstraksi realitas yang disederhanakan. Karenarealitas terlalu kompleks untuk ditiru secara tepat dan karena banyak dari kompleksitas itu sebenarnya tidak relevan dalam penyelesaian masalah yang spesifik.

Representasi sistem atau masalah berdasarkan model dapat dilakukan dengan berbagai macam tingkat abstraksi, oleh karenanya model diklasifikasikan menjadi tiga kelompok menurut tingkat abstraksinya, antara lain (Turban, 1998) :
Model Iconik (Skala)
Sebuah model iconik, model abstraksi terkecil adalah replika fisik sebuah sistem, biasanya pada suatu skala yang berbeda dari aslinya. Model iconik dapat muncul pada tiga dimensi (miniatur maket), sebagaimana pesawat terbang, mobil, jembatan, atau alur produksi. Photografi adalah jenis model skala iconik yang lain, tetapi hanya dalam dua dimensi.
Model Analog
Sebuah model yang tidak tampak mirip dengan model aslinya, tetapi bersifat seperti sistem aslinya. Model analog lebih abstrak dari model iconik dan merupakan perpresentasi simbolik dari realitas. Model ini biasanya berbentuk bagan atau diagram 2 dimensi, dapat berupa model fisik, tetapi bentuk model berbeda dari bentuk sistem nyata.
Berikut beberapa contoh lain :
  • Bagan organisasi yang menggambarkan hubungan struktur otoritas, dan tanggung jawab.
  • ƒ  Sebuah peta dimana warna yang berbeda menunjukkan obyek yang berbeda misalnya sungai atau pegunungan.
  • ƒ  Bagan pasar modal yang menunjukkan pergerakan harga saham.
  • ƒ  Cetak biru dari sebuah mesin atau rumah.
Model Matematik (Quantitatif)
Kompleksitas hubungan pada banyak sistem organisasional tidak dapat disajikan secara model icon atau model analog, atau representasi semacam itu malah dapat menimbulkan kesulitan dan membutuhkan banyak waktu dalam pemakaiannya. Oleh karena itu model yang tepat dideskripsikan dengan model matematis. Sebagian besar analisis sistem pendukung keputusan dilakukan secara numerik dengan model matematis atau model quantitatif yang lain.
Manfaat Model
Sistem pendukung manajemen (Management Support System – MMS) menggunakan model karena :
  • Model memungkinkan penghematan waktu. Waktu operasi yang bertahun-tahun dapat disimulasikan dalam beberapa menit atau detik denganmenggunakan komputer.
  • Manipulasi model (perubahanvariabel-variabel atau lingkungan) adalah jauh lebih mudah daripada memanipulasi sistem nyata. Oleh karenanya eksperimentasi lebih mudah dilakukan dan tidak menggangguoperasi organisasi sehari – hari.
  • ƒBiaya analitis pemodelan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan biaya eksperimen yangsama yang dilakukan pada sistem nyata.
  • Biaya dari kesalahan yang dibuat selama eksperimen trial-anderror jauh lebih murah jika digunakan model dibandingkan dengan sistem nyata.
  • ƒModel meningkatkan dan memperkuat pembelajaran dan pelatihan.



Daftar Pustaka
  • Sparague, R. H. and Watson H. J. 1993. Decision Support Systems: Putting Theory Into Practice. Englewood Clifts, N. J., Prentice Hall.
  • Turban , Efraim & Aronson, Jay E. 2001. Decision Support Systems and Intelligent Systems. 6th edition. Prentice Hall: Upper Saddle River, NJ.
  • sumber : undip.ac.id

0 komentar:

Free Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Website templateswww.seodesign.usFree Wordpress Themeswww.freethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree CSS Templates Dreamweaver